Artikel KMA-18

MISPERSEPSI UN
(Kunti Dewi Hambawani)


Baca langsung telan? Tersedak? Pastinya. Membaca tanpa memahami apa dan bagaimana secara jelas akan mengacaukan persepsi kita. Akhirnya, mispersepsi. Headline "UN Dihapuskan" sebuah judul yang memiliki daya jual yang luar biasa. Bahasa iklan untuk mengejar jumlah oplah. Mengaburkan makna yang sesungguhnya. Memunculkan sikap suudzon daripada husnudzon. Oleh karena itu, media massa seharusnya memberikan taklimat sesuai apa adanya. 
Sebagai penikmat berita, selayaknya kita mencari keabsahan berita tersebut tanpa membuat dugaan yang tidak jelas. Mencari kebenaran dan kejelasannya akan lebih baik, sehingga persepsi kita tidak salah kaprah. Mispersepsi akan mengakibatkan kegagalan dalam mencerna suatu berita.
Sebenarnya, sejak dicanangkannya UNBK, beragam komentar para siswa sudah membanjiri situs Kemendikbud. Mereka memprotes soal yang sulit. Nilai UN sebagai penentu kelulusan. Bagaimana di sekolah kita? Sama atau tidak? Tak dapat dielak. UN adalah polemik pelik, tetapi pemerintah kala itu terus saja menggunakannnya sebagai tolok ukur keberhasilan siswa.
Lalu, menteri baru mencoba memberikan wacana baru. Bukan sebuah retorika belaka. Sepertinya, UN yang selama ini menjadi momok menyeramkan, akan beralih ke asesmen yang fleksibel. Seolah memercikkan gula ke kuah yang terlanjur kebanyakan garam,  para siswa begitu gempita atas apa yang akan digulirkan Pak Nadiem. “Dengan dihapuskannya UN ini, tentu tekanan kepada kami pelajar, berkurang, begitupun dengan guru” ungkap Jerem, siswa SMAN 1 Jakarta Barat (Detik.com 12 Desember 2019). Di sisi lain, menanggapi mispersepsi yang terlanjur merebak, Nadiem mengklarifikasi cepat agar tidak menjadikan berita tersebut sebagai kasak-kusuk yang terus saja menghebohkan. 
"UN tidak dihapus. UN diganti dengan sistem penilaian baru dan survei karakter (asesmen kompetensi)”, ungkap Nadiem dalam rapat komisi X DPR (Kompas.com 13 Desember 2019). Jadi, jelas⸻tidak ada proses pembelajaran tanpa penilaian. Penilaian dengan essensi yang berbeda. Dua point yang ditekankan adalah pertama, literasi memahami konsep bacaan dan bukan sekadar  membaca saja. Kedua, numerasi yaitu mengaplikasikan konsep hitungan dengan konteks nyata. Penilaian versi baru lebih mengedepankan  "pengembangan kognitif dan karakter". Menarik sekali.
Apakah dalam UN diperhatikan tentang seperti yang tersebut di atas? Tidak bukan? UN hanya konsep saja. UN memang memperlihatkan siapa yang pintar, siapa yang tidak. Namun, karakter ternyata diabaikan. Sangat tepat jika tidak hanya konsep saja yang dipelajari, tetapi pengaplikasian yang nyatalah, wujud dari pembelajaran itu sendiri. Dengan begitu, bukti nyata akan dirasakan dampaknya dalam kehidupan.
Jangan lupa, dengan era yang makin menggila, pembenahan karakter juga harus diutamakan. Cerdas saja tidak cukup. Cerdas harus dibarengi dengan karakter yang baik. Sungguh, sebuah gebrakan baru dalam dunia pendidikan kita. Mencoba atau hanya diam saja. Tergantung kita sebagai pendidik. Tantangan untuk sebuah perubahan. Pro-kontra itu biasa. Jika tidak ada perubahan bagaimana kita dapat mengetahui hasilnya? Sebagai permulaan hasilnya akan seperti apa, jangan takut. Seperti ungkapan Lao Tzu dalam kata bijaknya “Hidup adalah serangkaian perubahan yang alami dan spontan. Jangan tolak mereka karena itu hanya akan menimbulkan penyesalan dan duka. Biarkan realita menjadi realita. Biarkan sesuatu mengalir dengan alami ke manapun merena suka”. Ingin perubahan? Bergeraklah!

























PROFIL

KMA-OP 15, 16, dua kelas terlewat. Sedih? Sangat! Mengapa? Sebab ternyata rasa rindu untuk “menunul” keyboard khususnya mengelontorkan gagasan sempat patah. Bukan disengaja, terkadang kita tidak dapat menerka akan ada apa di waktu yang akan datang. Musibah tidak diminta, tetapi jika datang tak dapat ditolak.
 Manusia tidak boleh larut dalam duka. Aktivitas harus kembali bergulir. Pun demikian dengan olah pikir di KMA OP.  Kelas inilah yang benar-benar mengasah ketajaman tulisan kita. Terus menulis menjadikan kita makin piawai. Bukan bohong, ini benar. Sebab, Alhamdulillah selesai tugas, kemudian Master menyuruh revisi itu, jarang sekali. Terima kasih Masterku. Sungguh selalu dan selalu tidak bosan mencoba terus menggerus ilmumu. Merdeka dalam menulis. Merdeka dalm mengguratkan gagasan. Namun, tetap dalam koridor aturan. Di kelas mana itu ada? Di KMA-OP tentunya. Terima kasih Bunda Honey, sudah mengizinkan kami mengganggu kebersamaanmu dengan Master kami. Mohon maaf.
 








Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengidentifikasi Isi dan Sistematika Surat Lamaran Pekerjaan

Artikel Antologi 11