Artikel Antologi 11
Kunti Dewi Hambawani
“Jeder!"
Pintu kelas dibanting. Jendela bergetar ketakutan. Kasar. Sangat! Sambil "Nggerundel" mirip dukun, Arifin
meninggalkan kelas. Baginya lebih baik seperti itu. Bu Tesa hanya melirik.
Gemuruh dadanya mengelegak. Darahnya bergolak. Muncrat ke ubun-ubun. Sedikit
gemetar menahan amarah, mencoba ditekan, tetapi masih sedikit kentara.
"Jangan hiraukan" selanya, menutupi ketegangan. Kelas tetap kaku.
Namun, Bu Tesa mencoba melumerkan lagi dengan berseloroh, "Anggap saja iklan lewat, jangan
menganggu belajar kita, rugi dong kali". Anak-anak pun kembali, bergeming
dengan kejadian tadi. Menekuri kerja kelompok yang sempat terhempas (Kejadian
sebenarnya, dengan nama disamarkan).
Pernahkah
menghadapi siswa yang demikian itu? Belum pernah? Syukurlah. Namun, coba
cermati sejenak dengan sikap Bu Tesa tersebut. Tindakan untuk mengendalikan
afeksi yang luar biasa. Memenjarakan amarah untuk memberikan contoh. Tindakan
alus yang dilakukan Bu Tesa memberikan teladan, bahwa afeksi jangan dilawan
dengan afeksi. Lumerkan afeksi. Jangan sampai afeksi menguasai. Jika afeksi
yang menguasai, celakalah. Pendidikan bukan hukuman, bukan kekerasan.
Pendidikan harus menjunjung tinggi empati dan membuka kekuatan pikiran dan
watak anak.
Ilustrasi
cerita di atas senada dengan ajaran Ki Hajar Dewantara dalam mendidik yaitu mengedepankan sistem among atau ngemong. "Ngemong" diartikan sebagai membimbing, mengarahkan
(menuntun), memberi petunjuk, ketika menghadapi keadaan yang tidak mengenakkan (http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/34695/1/Agus%20Setiawan-FITK).
Sebuah sikap ngemong seorang ibu
ditunjukkan oleh perilaku Bu Tesa. Seandainya Bu Tesa bertindak langsung
memukul (di tempat yang tidak berbahaya) atau mencubit, bagamana? Ini termasuk
tindak kekerasan ringan. Meskipun ringan, dampaknya tidak ringan. Perilaku yang
demikian dapat menjadi contoh yang keliru. Anak yang terbiasa mendapatkan
paparan kekerasan, maka ia cenderung untuk melakukan kekerasan.
Laporan
yang berjudul Ending Violence in Childhood: Global Report 2017 atau
Mengakhiri Kekerasan pada Anak. Diterbitkan oleh KnowViolence in Childhood.
Penelitian tersebut memperkirakan dalam setahun tiga sampai empat anak-anak
dunia--1,7 miliar mengalami beberapa bentuk kekerasan interpersonal baik negara
miskin ataupun kaya (https://resourcecentre.savethechildren.net/library/ending-violence-childhood-global-report-2017).
Merujuk
pada penelitian tersebut, akan terjadi kesepakatan bahwa anak yang menerima kekerasan sedari kecil,
maka dia akan menjadi pelaku kekerasan. Kekerasan itu pun akan berlanjut sampai
menginjak bangku sekolah. Oleh karena itu, keluarga sebagai wadah pertama
pembentuk watak dan karakter anak, hendaknya menerapkan sikap ngemong dan memberi contoh. Pada
kenyataannya, masih ada beberapa orang tua yang melakukan kekerasan apabila
anaknya bersalah.
Pola
asuhan di rumah kadang menyebabkan sikap perilaku anak didik yang kurang sopan.
Oleh sebab itu, ketika di sekolah guru yang harus menuntunnya untuk memperbaiki
perilaku tersebut. Merunut dari akronim "Guru:
digugu dan ditiru" menjadi
teman, untuk lebih mengakrabkan diri kepada anak didik. Menjadi Ibu atau ayah,
untuk lebih masuk ke dalam agar lebih mudah mengendalikan, mengubah, menghilangkan tabiat yang kurang
baik. Menjadi saudara, serasa, sekandung, agar lebih mudah menyelami pribadi
anak didik. Tidak boleh pongah dengan "Ini saya, gurumu, saya lebih di
atasmu, saya ..., saya ... ". Bukan seperti itu. Rangkul dengan
kelembutan, bukan dengan kekasaran.
Kekerasan
hanya akan membuat anak didik berlari, akhirnya tak terkendali. Yang rugi
siapa? Ya semua, guru, sekolah, orang tua, dan si generasi penerus bangsa.
Betapa harmonisnya hubungan guru dan anak didiknya, terjalin akrab, happyfun. Itu kesan ketika menonton
tayangan di televisi tentang Pak Tri Adinata yang mengajar di SMP Al-Azhar
Medan. Keakraban guru dan siswanya yang lagi viral ini patut dicontoh. Menjadi
guru yang menyenangkan dan dirindukan akan lebih memberikan buah yang lebih
ranum.
Simpan
tanganmu jika sudah tersengat, penjarakan bentakanmu jika mulai melihat anak
mojok di kelas untuk tidur sekejap. Peti-kan ujaran kasarmu jika mengingatkan
tetapi tak diindahkan. Berbaiklah. Bangun dengan rasa ngayomi, ngemong, dan nuntun.
Tuntunan yang baik akan menghasilkan hal yang baik. Demikian sebaliknya. Bukan
jamannya melarang dengan kekerasan, mengatur dengan ikatan yang tidak pas,
mengungkung, dan menghukum dengan kesalahan yang tidak sepadan. Akrabi orang
tua sebagai patner dalam mendidik dan mengajar. Jalin komunikasi agar
mempermudah self-controling.
Komentar
Posting Komentar