MEREDAM AFEKSI, BERIKAN EMPATI Kunti Dewi Hambawani “Jeder!" Pintu kelas dibanting. Jendela bergetar ketakutan. Kasar. Sangat! Sambil " Nggerundel " mirip dukun, Arifin meninggalkan kelas. Baginya lebih baik seperti itu. Bu Tesa hanya melirik. Gemuruh dadanya mengelegak. Darahnya bergolak. Muncrat ke ubun-ubun. Sedikit gemetar menahan amarah, mencoba ditekan, tetapi masih sedikit kentara. "Jangan hiraukan" selanya, menutupi ketegangan. Kelas tetap kaku. Namun, Bu Tesa mencoba melumerkan lagi dengan berseloroh, "Anggap saja iklan lewat, jangan menganggu belajar kita, rugi dong kali". Anak-anak pun kembali, bergeming dengan kejadian tadi. Menekuri kerja kelompok yang sempat terhempas (Kejadian sebenarnya, dengan nama disamarkan). Pernahkah menghadapi siswa yang demikian itu? Belum pernah? Syukurlah. Namun, coba cermati sejenak dengan sikap Bu Tesa tersebut. Tindakan untuk mengendalikan afeksi yang luar biasa. Memenjarakan amarah untuk memb...
Komentar
Posting Komentar